CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Air Tergenang, diduga karena luapan dari drainase

CORONG – PALEMBANG 🔊 Beberapa Ruas jalan dan perumahan warga di kota Palembang terlihat di...

CORONG – PALEMBANG 🔊 Beberapa Ruas jalan dan perumahan warga di kota Palembang terlihat di genangi air akibat diguyur hujan Kamis sore (26/12/2019), Salah satu wilayah pemukiman penduduk yang digenangi air ialah di Jalan Famili 1 sampai Famili 4 Siringagung Ilir Barat Satu, kota Palembang.

Walaupun turunnya hujan tidak begitu lama, kurang lebih 1 jam Tapi telah membuat ruas jalan dan beberapa rumah penduduk teredam air hujan sehingga warga harus memindahkan barang barang dan alat alat rumah tangga miliknya ke tempat yang lebih tinggi.

Hasil pantauan dari awak media, khususnya di sekitar Jalan Famili 4 ada limpahan air dari Jl Kapten Anwar Arsyad, dari Famili 1,2 dan 3 serta dari sekitaran Lorong bakti, selain itu juga ada Dranaise yang belum selesai pembangunannya dan meluap akibat aliran air tidak mengalir, bahkan di dalam Dranaise itu banyak sekali terlihat sampah.

Destia, Salah seorang warga Famili 4 sangat mengeluhkan sekali keadaan seperti ini, karena akibat genangan air yang tingginya mencapai 1 meter lebih secara tidak langsung membuatnya tidak nyaman, dan harus bebenah memindahkan barang barangnya ke tempat yang lebih tinggi, apalagi hujan yang terjadi menjelang malam sehingga dia harus menumpang tidur di rumah orang tuannya yang kebetulan rumahnya ada di dataran yang lebih tinggi.

“Saya berharap kepada pemerintah kota Palembang, agar kiranya dapat meninjau ulang atau menyelesaikam drainase yang belum selesai. Supaya tidak menimbulkan ke banjiran lagi, mengingat kota Palembang adalah kota metro polintan,” pintanya.

Sementara itu Hendra satryawan selaku Ketua RT 03 menilai, Selain PEMKOT Palembang harus segera menyelesaikan Drainase yang ada di dekat Famili 4, selain itu kota Palembang juga membutuhkan tambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Hendra menyatakan kota Palembang membutuhkan penanganan banjir yang terintegritas. Ancaman kerusakan ekologis yang melanda ibu kota Provinsi Sumsel ini terus berulang setiap tahun, yakni pada musim kemarau menjadi daerah yang terpapar asap dan pada musim hujan mengalami banjir.

“Pemerintah kota hendaknya memahami ini sebagai kerusakan ekologis yang serius dan berimbas kepada masyarakatnya,” ujarnya.

Menurutnya, Berdasarkan pasal 29 ayat 2 UU nomor 26 tahun 2007 mengenai Penataan Ruang dinyatakan jika proprosi ruang terbuka hijau pada wilayah kota setidaknya 30% dari luas wilayah kota keseluruhan. Jika luas Palembang mencapai 40.061 hektar (ha) maka dibutuhkan setidaknya 12.018 Ha ruang terbuka hijau di kota Palembang.

Selain itu, kolam retensi yang berfungsi menampung (drainase) juga masih belum maksimal dalam manajemen banjir di kota Palembang. “Saat ini, Palembang baru memiliki 28 kolam saja. Karena itu, Palembang sangat membutuhkan Integrated Flood Managemen (Manajemen Banjir Terpadu) dalam mengurangi resiko bencana, mengembangkan adaptasi bencana, memulihkan area rawa, perbaikan sistem jaringan sungai sekaligus memastikan tidak ada lagi, bangunan tanpa adanya analisis AMDAL,” tambahnya.  🔘 (mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *