CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Kejar China dan Solusi Ekonomi Sandinomics di Sektor Parekraf

 

HARI itu hujan gerimis, Tim Sandinomics—sebutan untuk strategi ekonomi ala Sandiaga Uno—janji lari bareng sekaligus berdiskusi. Kami menyebutnya “run discussion”. Lari sambil berdiskusi ini biasa kami lakukan untuk menghemat waktu.

“Kita ketemu lari 10 kilometer pukul 06.30 WIB di depan rumah. Habis itu mau langsung rapat kabinet,” kata saya kepada Chief Executive Officer (CEO) Sandinomics Alexander Yahya Datuk dan Chief Strategic Officer (CSO) Sandinomics sekaligus Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi.

Tidak mudah untuk terus berlari beriringan. Alexander biasanya akan tertinggal di kilometer kelima. Sementara, Fithra lebih bisa mengimbangi tetapi dengan perjuangan.

Well, Alex dan Fithra mengakui tidak mudah mengikuti kecepatan lari saya. Mereka menilai, tidak hanya kecepatan lari saya yang membuat rombongan terengah-engah, kerja saya sehari-hari di kementerian juga membuat birokrasi terengah-engah.

Baca juga: IMF Ramalkan Ekonomi China 2021 Tumbuh 8,1 Persen

Gerak cepat. Kita harus segera pulih! Dalam konteks itulah, run discussion kami anggap menjadi penting. Melalui diskusi hari itu, kami mencari faktor pemantik untuk menumbuhkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

China, negara yang berelasi dekat dengan kita sejak 70 tahun lalu, menjadi bagian dari diskusi ini. Dalam perspektif mencari faktor pemantik itu, kebangkitan ekonomi China secara cepat dari pandemi Covid-19 harus mampu kita manfaatkan dengan sebesar-besarnya. Kita harus menangkap segala potensi hingga menumpahkan manfaat besar bagi Indonesia.

Potensi itu akan semakin solid tatkala kita juga memperhitungkan faktor tarikan gravitasi yang mengikat kedua negara.

Coba tengok, berapa banyak makanan asal China yang sudah kita anggap sebagai bagian dari budaya kuliner bangsa? Beberapa kata yang kita gunakan sehari-hari dalam diskusi formal maupun informal juga ada yang diserap dari bahasa China. Seringkali, faktor-faktor tak-rupa fisik ini lebih bisa merekatkan hubungan antarnegara.

Bringing back tourism, brings back the economy.” Industri pariwisata Indonesia yang sangat terpukul karena pandemi Covid-19 perlu dihidupkan kembali. Tentunya, melalui berbagai adaptasi dengan kondisi saat ini, baik dari sisi implementasi protokol kesehatan maupun dinamika perkembangan industri.

Baca juga: Pariwisata Babak Belur akibat Pandemi Covid-19, Puluhan Hotel di Bali Dijual

Mengacu pada perhitungan inputoutput, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dikatakan memiliki backward dan forward linkage yang sangat signifikan. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif cukup dominan dalam penerapan tenaga kerja. Pasalnya, sektor ini melibatkan lebih dari sepertiga total tenaga kerja antarsektor.

Coba lihat pada masa normal. Provinsi yang mengandalkan pariwisata dan ekonomi kreatif tumbuh mencorong sendirian dibandingkan daerah lain. Akan tetapi, provinsi tersebut sangat terpuruk ketika dihantam pandemi.

Menurut Fithra, kita perlu berstrategi di antara lini waktu untuk mengatasi masalah tersebut. Ada penjelasan mengenai relevansi China dalam hal ini. Negeri Panda merupakan salah satu dari sedikit negara yang jauh dari resesi sehingga bisa menjadi “buah yang mudah dipetik”.

Untuk itu, saya melihat berstrategi di antara lini waktu ini dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah pengenalan kembali yang bertujuan untuk meningkatkan kembali awareness rakyat China terhadap Indonesia.

Baca juga: Indonesia Diharapkan Mampu Dorong Implementasi Ekonomi Kreatif Dunia

Kita bangun citra persahabatan dan persatuan untuk mendapatkan niat baik dari rakyat China. Tahap ini akan memakan waktu 100 hari dari sekarang, yaitu hingga kuartal kedua 2021.

Berikutnya adalah tahap pemulihan melalui publikasi mengenai suasana destinasi wisata di Indonesia. Kita sampaikan bahwa destinasi wisata di Indonesia aman dan ramah berdasarkan prinsip Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability (CHSE).

Pada tahap ini, digital tourism memainkan peranan yang sangat kuat. Hal ini juga searah dengan ASEAN Tourism Strategic Plan yang baru saya hadiri beberapa waktu lalu. Tak lupa, pemberlakuan Free Covid-19 Corridor (FCC) berbasis vaksinasi dan tes yang dapat menopang risiko pada tahap ini hingga kuartal ketiga 2021.

Sementara itu, di awal kuartal keempat, kita memasuki tahap bangkit. Kita optimalkan usaha untuk meningkatkan promosi produk serta kampanye tematik demi meningkatkan partisipasi kolektif secara bilateral dengan China.

Lebih lanjut, strategi induktif pragmatis yang mengedepankan kualitas, inklusi, dan keberlanjutan juga perlu dilakukan. Peningkatan kualitas bisa dipahami dari sisi manfaat ekonomi. Selain sebagai mitra ekonomi penting dan strategis bagi Indonesia, China juga merupakan penyumbang jumlah wisatawan yang besar dan terus meningkat setiap tahunnya, kecuali pada masa pandemi ini tentunya.

Baca juga: Gaya Perjalanan Wisatawan China Saat di Sulawesi Utara

Kita bisa melihat tren wisatawan China usai wabah SARS pada 2003. Menengok data Ctrip Outbound Report 2020, satu bulan usai wabah tersebut, jumlah turis asal China yang melancong ke seluruh dunia mengalami pertumbuhan hingga 200 persen. Setahun berselang, pertumbuhan jumlah turis semakin signifikan hingga melewati angka 500 persen.

Kita berharap, pola yang sama terjadi pada tahap pemulihan pascapandemi Covid-19. Tentu harapannya, kita tidak hanya bisa terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari China, tetapi juga meningkatkan “quality tourism” antara kedua negara.

Alex menyampaikan data survei yang menunjukkan bahwa di China mulai ada pergeseran minat wisata.

Beberapa tahun lalu, wisatawan China yang mengunjungi Indonesia lebih didominasi oleh grup wisata besar. Kini, wisatawan China lebih memilih berwisata dalam grup kecil atau lebih customized daripada grup wisata yang besar atau massal.

Selain itu, ada peningkatan signifikan pada minat perjalanan wisata yang mandiri dan bebas (free and independent traveler/FIT).

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga, serta semakin luasnya penggunaan sarana digital, terutama di kalangan muda, sewajarnya tren wisata yang lebih independen dan customized mulai semakin diminati. Hal ini karena calon wisatawan bisa secara mandiri mencari dan merancang perjalanannya.

Baca juga: Wabah Virus Corona, Hotel di Bali Diminta Tidak Kenakan Biaya Pembatalan untuk Wisatawan China

Pada kesempatan diskusi tersebut, Alex juga menyampaikan satu fakta mengenai kaum muda di China. Mereka yang mulai berpenghasilan dan berkeluarga memiliki selera wisata yang berbeda dengan generasi pendahulunya.

Mereka punya kecenderungan untuk meninggalkan pola perjalanan “group tour” dan memilih merancang perjalanan mereka sendiri secara mandiri.

Selain itu, para wisatawan dari kota-kota besar yang berpenghasilan menengah ke atas, baik muda maupun tua, cenderung merupakan “big spender”. Mereka juga menghindari grup wisata besar atau massal. Sebaliknya, mereka memilih merancang perjalanannya secara mandiri, serta berwisata dalam kelompok yang kecil.

Tampaknya, Indonesia perlu berupaya untuk meningkatkan portofolio kunjungan wisata dari China yang juga berasal dari grup wisata yang customized, grup kecil, dan khususnya wisatawan mandiri.

Indonesia harus secepatnya menangkap peluang ini, mengingat pergeseran tren dan perubahan selera wisata masyarakat China sudah terjadi. Caranya dengan menggencarkan “quality tourism”.

Baca juga: Soal Sandiaga Ngantor di Bali, Gubernur: Pariwisata akan Pulih Sendiri Kalau Pandemi Selesai

Geliat pariwisata yang berkualitas ini diharapkan menciptakan lapangan kerja yang lebih besar dan peningkatan peluang yang inklusif bagi wirausaha lokal berbasis ekonomi kreatif.

Selain dari sisi ekonomi, quality tourism juga memiliki dampak positif jika dilihat dari sisi keberlanjutan (sustainability), keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability), dan kearifan lokal (sosial-budaya) yang merupakan aset terbesar pariwisata Indonesia jadi lebih terjaga.

Terkait dengan ekonomi kreatif, Fithra menyampaikan bahwa hasil olah data menunjukkan, 6 dari 10 sektor pemberi angka pengganda nilai tambah ekonomi tertinggi memiliki kaitan dengan ekonomi kreatif.

Sektor-sektor tersebut adalah musik, periklanan, aplikasi dan game, film dan animasi, seni pertunjukan, serta desain komunikasi visual.

Aspek kelokalan dari industri kreatif kita menjadi keunggulan yang dapat memicu kolaborasi. Aspek ini membuat pelaku industri kreatif asal China yang ingin masuk ke Indonesia hanya memiliki pilihan rasional melakukan kerja sama intensif dengan pelaku Indonesia.

Baca juga: Paradigma Pariwisata Alami Pergeseran Akibat Covid-19

Kini, peluang bertebaran. Akhirnya, tinggal bagaimana kita merapikan dan menghubungkan. Dari berbagai isu di atas, hubungan China dengan Indonesia memang sangat menjanjikan, sudah menua, tetapi tidak layu, malah semakin tegas.

Potensi penggiatan kerja sama pun bisa berbuah hasil yang penuh dengan warna Sandinomics, yaitu penciptaan lapangan kerja serta inklusi untuk para pelaku ekonomi kreatif lokal.

 

Catatan: Tulisan ini hasil diskusi dengan Chief Executive Officer (CEO) Sandinomics Alexander Yahya Datuk dan Chief Strategic Officer (CSO) Sandinomics dan Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi.

 

MAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *