CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Polda Bali Ringkus Dua Komplotan Skimmer Jaringan Internasional


JawaPos.com–Kepolisian Daerah (Polda) Bali meringkus dua komplotan skimmer yang dikendalikan jaringan internasional. Dua komplotan itu tidak saling berkaitan namun sama-sama dikendalikan warga negara asing.

Komplotan pertama terdiri atas empat pelaku yaitu Aris Said, Endang Indriyawati, Putu Rediarsa, dan Christoper B. Diaz, yang dikendalikan seorang residivis asal Bulgaria. Mereka terafiliasi dengan pelaku narkoba dari Lapas Kelas IIA Kerobokan. Sedangkan komplotan kedua, terdiri atas tiga orang yaitu Junaidin, Alamsyah, dan Miska yang dikendalikan warga negara asing asal Malaysia dan keberadaannya masih dalam pengejaran Polda Bali.

”Jumlah korban kasus skimming dari dua komplotan tersebut sekitar 1.000 orang nasabah yang berhasil dijebol dan diambil uang di ATM-nya. Total kerugian Rp 3 miliar dari salah satu bank saja,” ucap Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Bali AKBP Ambariyadi Wijaya seperti dilansir dari Antara di Denpasar, Bali, Selasa (9/2).

Dari komplotan pertama, lanjut dia, dua pelaku adalah residivis kasus narkoba dan kasus penggelapan.

”Dalam komplotan pertama, ada dua orang yang merupakan seorang residivis penggelapan dan narkoba. Kebetulan mereka satu blok dengan WNA Bulgaria bernama Dogan di LP Kerobokan. Di sana terjadi komunikasi, transfer ilmu, dan membuat kesepakatan saat keluar mereka akan melakukan skimming,” tutur Ambariyadi Wijaya.

Sedangkan komplotan kedua yang terdiri atas tiga orang tersebut berasal dari Dompu, NTB. Mereka merupakan mantan tenaga kerja Indonesia (TKI). Komplotan kedua itu mengenal pengendalinya saat menjadi TKI di Malaysia.

Ambariyadi mengatakan, WNA asal Malaysia tersebut sering mengunjungi tiga pelaku di Dompu. ”Si WNA sering datang ke rumah pelaku di Dompu. Saat datang, para pelaku diberi peralatan skimming dan diajari selama empat bulan,” terang Ambariyadi Wijaya.

Komplotan asal Dompu itu beraksi sejak 2018, dengan memasang alat skimming di mesin ATM. Kemudian menggandakan kartu yang dikendalikan dari Malaysia untuk selanjutnya ditarik tunai.

”Mereka merupakan pelaku lintas negara dan provinsi. Lokasi yang pernah dijadikan tempat aksi kejahatan yaitu Bali, Tarakan, Surabaya, Jember, Solo, Bima, Sumbawa, Kupang, dan Palembang,” ucap Ambariyadi Wijaya.

Dia mengatakan, bentuk laporan yang diterima, di antaranya nasabah yang mengaku kehilangan saldo dari Rp 5 juta menjadi Rp 500 ribu dan ada juga hingga kehilangan uang ratusan juta rupiah.

Para pelaku saat ini ditahan di Rutan Polda Bali. Mereka diduga melanggar pasal 30 jo pasal 46 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama delapan tahun dan denda Rp 800 juta.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara





MAR

KOMENTAR