CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Kemendikbud Pacu Pendidikan Vokasi Mampu Cetak Lulusan Wirausahawan

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi mendorong Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) harus mampu mencetak lulusan yang mampu menjadi wirausahawan mandiri dan tangguh.

Untuk itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi memulai sejumlah program pada tahun anggaran 2021 ini. Di antaranya melakukan revitalisasi pendidikan vokasi pada lima area.

“Pendidikan vokasi, baik pada level SMK maupun Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) harus mampu mendorong agar lulusannya menjadi wirausahawan mandiri dan tangguh sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kemendikbud, Wikan Sakarinto, dalam keterangannya, Minggu (7/2).

Wikan menuturkan, lima area yang direvitalisasi yaitu penguatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, dukungan dan percepatan link and match serta kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), dukungan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) PTN Vokasi dan program kursus serta pelatihan. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Merujuk pada era industri 4.0, fokus pertama Ditjen Diksi berfokus pada revitalisasi 900 SMK yang menjadi pusat keunggulan atau center of excellent (CoE). Selanjutnya, pada area kedua fokusnya terletak pada penguatan 200 di pendidikan tinggi.

Di antaranya adalah dengan memberikan sertifikasi kompetensi kepada 300 dosen, penguatan 75 Pendidikan Tinggi PNBP/BLU dengan alokasi anggaran sebesar Rp 742,62 miliar serta menyediakan Rp 596,356 miliar untuk penguatan sarana prasarana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) delapan PTV. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Di area ketiga, fokus kami ada pada kemitraan dengan DUDI. Di antaranya berupa dukungan dan penguatan link and match. Program ini ditujukan kepada 5.690 orang dan 250 DUDI,” paparnya.

Selain itu pula, dukungan juga diberikan kepada kepada 47 politeknik negeri untuk pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) PTN Vokasi (BOPTN). Terakhir, untuk area kelima adalah program kursus dan pelatihan yang memprioritaskan pada program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan program Pendidikan Kecakapan Kewirausahaan (PKW) kepada 66.678 orang.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dirjen Diksi mengingatkan agar lembaga pendidikan vokasi tidak hanya sekadar fokus pada keahlian teknis (hard skills), tapi juga memperhatikan keahlian non-teknis (soft skills).

“Empat karakter dasar (soft skills) yang harus dimiliki lulusan vokasi adalah kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja dalam target, kemampuan bekerja secara team work, kemampuan berpikir kritis, dan tidak mudah bosan dan menyerah dalam berkarya,” tambah Wikan. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣Wikan menyampaikan beberapa strategi dalam menyukseskan program prioritasnya. Strategi pertama yaitu mentautsuaikan (link and match) seluruh kampus vokasi, seluruh SMK, seluruh Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) se-Indonesia melalui konsep paket 8+1. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Di dalamnya mencakup kurikulum, soft skills, visiting teacher expert from industry, internship, certificate of competence, training, applied research, commitment absorbing graduates, dan scholarship/job contract/donation dari industri. Jadi tidak hanya melalui MoU, yang kemudian MoU tersebut ‘tidur’, sehingga kita mengutamakan kualitas yang akan menghasilkan output dan dampak yang signifikan,” terang Wikan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Strategi kedua adalah seluruh dana hibah/dana bantuan hanya akan diberikan kepada SMK, kampus vokasi, maupun LKP yang memiliki sumber daya manusia ataupun pemimpin yang berkarakter subur.

Yang dimaksud berkarakter subur, dijelaskan Wikan, adalah menghasilkan buah yang diharapkan. Ia mengibaratkan, apabila tanahnya gersang walaupun ditanam dana berapa miliar pun hanya akan menghasilkan gedung dan alat, namun buahnya tidak sesuai. Ia menekankan pentingnya kesiapan mindset dan leadership dari guru, pendidik maupun dosen ketika tersedia dana bantuan.

“Strategi ketiga adalah training mindset, leardership dan networking yang diperuntukkan bagi dosen, kepala sekolah, direktur dan pelaku pendidikan vokasi lainnya dalam melakukan link and match dengan konsep paket 8+1 tersebut,” terangnya. (nal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *