CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Dugaan Wisatawan Dilecehkan di Malioboro, Ini Kata Pengamat Pariwisata UGM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Tindakan beberapa petugas Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Malioboro yang diduga melecehkan seorang wisatawan di kawasan Malioboro kini turut ditanggapi pengamat pariwisata Universitas Gajah Mada (UGM) Hendrie Adji Kusworo.

Hendrie menganggap kejadian pada Sabtu (6/2/2021) kemarin bukan hal yang pertama kali, sehingga dampak negatif terhadap branding pariwisata satu di antara kawasan primer di Kota Yogyakarta itu tidak begitu terpengaruh.

Meski begitu Hendrie menegaskan bahwa perlu adanya edukasi baik itu para pelaku pariwisata di garda terdepan dalam hal ini pihak UPT maupun para tamu atau wisawatan.

“Ini bukan yang pertama. Persoalannya masing-masing punya background kultural yang berbeda. Baik itu tamu maupun tuan rumah,” katanya, saat dihubungi Tribunjogja.com, Minggu (7/2/2021).

UPT Malioboro Buka Suara Soal Unggahan Pelecehan Wisatawan di Malioboro

Hendrie mengatakan wisatawan perlu belajar konteks lokal supaya mengetahui rambu-rambu di tempat pariwisata.

Begitu juga dengan tuan rumah, perlu adanya referensi supaya dapat memastikan bahwa wisatawan sudah mematuhi aturan, di sisi lain harus tetap ramah kepada wisatawan.

“Wisatawan harus belajar konteks lokal, dan tuan rumah juga harus paham refrensi soal tamu,” tegasnya.

Secara garis besar, lanjut Hendrie, bagi pelaku pariwisata wajib memiliki kode etik seperti halnya seorang pramugari di sebuah maskapai penerbangan.

“Harusnya ada kode etik sebagai frontlinier atau petugas di depan,” ucapnya.

Adanya kejadian ini, menurut Hendrie menjadi hal yang lumrah lantaran pendidikan pariwisata saat ini lebih mengajarkan bagaimana menjadi tuan rumah, sementara pendidikan menjadi seorang tamu atau pariwisata sangat minim, bahkan tidak ditemui.

Terkait Dugaan Kasus Pelecehan di Malioboro, Wakil Ketua DPRD DIY Usulkan Adanya Pembinaan Rutin

“Sehingga apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan itu enggak jelas. Karena pendidikan pariwisata itu bagaimana kita menjadi tuan rumah, bukan mendidik sebagai tamu pariwisata,” imbuhnya.

Terkait cara wisatawan mengeluarkan curhatannya di media sosial, hal itu menurutnya sudah ada aturan mana saja yang boleh diunggah, maupun yang tidak boleh diunggah ke kanal media.

Namun, secara branding Yogyakarta sebagai satu di antara surganya destinasi wisata tidak akan tercederai dengan adanya unggahan tersebut, meskipun secara branding kawasan Malioboro termasuk tersudutkan.

“Kalau dari sisi regulasi kan sudah ada mana yang boleh dan tidak. Tapi kalau substansi branding itu soal lain, dan saya kira tidak terlalu signifikan,” tambahnya.( Tribunjogja.com )

KOMENTAR