CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Mengenang Pramoedya Ananta Toer untuk Pendidikan Tanah Air

Buku Bumi Manusia memang kaya akan pandangan Pram menyangkut dunia dan sosial kemasyarakatan. Masih dalam buku ini, seniman Lekra itu menuangkan pandangannya soal keadilan.

Baginya seorang yang terdidik mestilah bertindak adil bahkan sebelum tindakan itu masih berada dalam tempurung kepala. 

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” sebut Pramoedya.

Dia juga sempat melontarkan kritik dengan gaya sastranya kepada pendidikan di Tanah Air. Melalui tulisannya di Jawa Pos, 18 April 1999, Pram meminta pembaca merenungkan soal pendidikan di negeri ini.

“Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya,” tulis Pram.

Dalam buku Pramoedya Ananta Toer: Catatan dari Balik Penjara, terekam pria kelahiran Blora ini juga pernah menggalakkan dunia tulis menulis. Lewat pesannya tentang bekerja untuk keabadian, Pram menawarkan resep untuk dapat dikenang melalui tulisan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” kata Pram.

Termasuk ungkapan Pram soal menulis sedari dini. Menurutnya apa yang ditulis sejak usia dini dipastikan akan membuahkan manfaat.

“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi,” katanya.

Selain itu, Pramoedya Ananta Toer juga dikenal sebagai sastrawan yang lantang menyuarakan isu-isu keadilan, termasuk pula masalah pendidikan. Label “komunis” oleh rezim orde baru membawanya terjerumus ke Pulau Buru, tempat pengasingan bagi terduga PKI.

Ia dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat Gerakan 30 September.

Meski begitu dirinya masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999. Pram juga masih harus wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Pada 1995, Pram diganjar penghargaan Ramon Magsaysay Award, sebuah hadiah penghargaan yang dibentuk pada bulan April 1957 oleh para wali amanat Rockefeller Brothers Fund (RBF) yang berpusat di Kota New York, Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *