CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

Kerja Sama Internasional Bisa Buat Harga Daging Sapi Turun


Jakarta, IDN Times – Mahalnya daging sapi di Indonesia belakangan ini dikeluhkan konsumen, mengingat daging sapi adalah jenis protein ketiga terbanyak yang dikonsumsi di Indonesia setelah ayam dan ikan.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan Ph. D Candidate Australian National University (ANU) Andree Surianta merekomendasikan sejumlah cara agar harga daging sapi di Indonesia bisa turun. Mulai dari Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) dan koordinasi dengan Economic Cooperation Program (ECP).

Bagaimana IA-CEPA bisa bikin harga daging sapi turun?

Baca Juga: Setelah Kedelai, Harga Cabai dan Daging Sapi Melambung Tak Terkendali

1. Akses preferensial ke lebih dari 99 persen produk pertanian untuk pakan

Kerja Sama Internasional Ini Bisa Buat Harga Daging Sapi TurunMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Dok. Kementerian Perdagangan)

Andree menjelaskan bahwa IA‑CEPA memberikan akses preferensial ke lebih dari 99 persen produk pertanian Australia yang diimpor Indonesia. Dengan demikian, usaha yang menggunakan pakan biji-bijian dan daging sapi sebagai bahan produksi sekarang bisa mendapatkan kedua-duanya dengan harga yang lebih rendah.

Untuk pakan, tarif akan dihilangkan untuk sejumlah 500 ribu ton di tahun pertama perjanjian dagang diterapkan dan jumlah ini akan ditingkatkan secara progresif ke lebih dari 775 ribu ton di tahun kesepuluh.

Kemitraan IA-CEPA memberikan kemudahan berupa pembebasan tarif, dari yang tadinya 5 persen untuk 575 ribu ternak di tahun pertama. Volume bebas tarif ini dinaikkan 4 persen setiap tahun sampai mencapai 700 ribu pada tahun keenam. Untuk daging sapi beku, tarif diturunkan dari 5 persen menjadi 2,5 persen yang kemudian dihapuskan setelah tahun kelima.

“Peningkatan volume dan penurunan tarif tentu bisa berkontribusi pada turunnya harga daging sapi di Indonesia. Selain itu, kerja sama ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk mewujudkan konsep ‘poros kekuatan’ yang menggabungkan kekuatan kedua mitra, yaitu sektor pertanian Australia dan industri makanan olahan Indonesia, untuk kemudian merambah pasaran negara lainnya,” kata Andre dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/2/2021).

2. Kemendag harus koordinasi dengan Economic Cooperation Program (ECP)

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Kerja Sama Internasional Ini Bisa Buat Harga Daging Sapi TurunIDN Times/Helmi Shemi

Andree juga menyarankan Kementerian Perdagangan untuk melakukan koordinasi dengan Economic Cooperation Program (ECP) untuk mendesain program untuk memperlancar jalur pasokan sapi potong dan daging sapi dari Australia ke Indonesia. Caranya bisa dengan mengadakan pertemuan berkala antara peternak Australia dengan importir Indonesia, mempelajari hambatan logistik dari Australia ke Indonesia, atau bahkan mengevaluasi cara meningkatkan efektifitas rantai distribusi daging sapi di Indonesia.

“ECP adalah suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan potensi kesuksesan pelaksanaan IA-CEPA dengan mendukung reformasi regulasi melalui bantuan teknis, memfasilitasi hubungan antar industri, dan mengembangkan standar umum dan kerangka kerja antar kedua negara,” ujarnya.

Baca Juga: Anak Muda Jadi Peternak Sapi? Yuk, Intip Gimana Suksesnya

3. Tapi tetap perlu evaluasi dalam negeri juga

Kerja Sama Internasional Ini Bisa Buat Harga Daging Sapi TurunANTARA FOTO/Arnas Padda

Tingginya harga daging sapi baru-baru ini menyebabkan pedagang daging sapi melakukan demonstrasi dan menolak berjualan. Hal ini disebabkan oleh harga daging sapi yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar Rp 120.000 per kilogram. Menurut Andree, tingginya harga daging sapi juga perlu diatasi dengan melihat ke persoalan di hulu, salah satunya adalah rantai distribusi yang panjang.

“Meskipun IA-CEPA bisa mengurangi harga impor daging sapi, panjangnya rantai distribusi bisa menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit yang pada akhirnya berpengaruh kepada harga jual,” ucapnya.

Selain itu, pemerintah memilih mengimpor sapi bakalan yang harus digemukkan lagi dan dipotong di Indonesia. Setelah itu, daging sapi yang dihasilkan dapat dijual langsung ke pedagang grosir berskala besar di pasar atau melalui tengkulak yang membantu Rumah Potong Hewan (RPH) untuk mendapatkan pembeli.

“Tahapan selanjutnya adalah menjual daging sapi ke pedagang grosir berskala kecil. Merekalah yang menjual daging sapi ke pedagang eceran di pasar tradisional atau supermarket, sebelum akhirnya sampai di tangan konsumen. Proses panjang ini tentu menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit,” paparnya

Baca Juga: IA CEPA Resmi Berlaku, Bea Masuk Produk RI ke Australia Kini Dihapus





MAR

KOMENTAR