CORONG NUSANTARA MEDIA

Menyampaikan Suara berimbang menjadi lebih berarti

HALAL BI HALAL LINGKAR MAHASISWA FILSAFAT INDONESIA (LIMFISA)

CORONG – PALEMBANG 🔊 Momentum Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1441 H atau 2020 M, Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia (LIMFISA) mengadakan Halal Bi Halal virtual dengan tema “Genggam Erat Tanganku Sampai Kau Jemu (Dialog Sebagai Sarana Meretas Isu Rasisme)” yang diadakan pada pukul 20:20 dengan menggunakan platfrom via Zoom. Halal Bi Halal ini bertujuan untuk memperkuat tali silaturrahmi di dalam internal Dewan Pengurus Nasional (DPN) LIMFISA dan juga antar organisasi mahasiswa lintas jurusan Filsafat, yaitu dengan turut mengundang organisasi mahasiswa Tafsir-Hadist, dan Studi Agama-agama.

Selain memperkuat tali silaturrahmi, Halal Bi Halal kali ini dibarengkan dengan diskusi tentang Isu yang sedang ramai dibincangkan; Rasisme.

Dalam kesempatan ini DPN LIMFISA mengundang Dr. Kholid Al-Walid, M.Ag (Rektor STFI SADRA) sebagai Narasumber, Muhammad Afif Al-Ayyubi (Ketua umum LIMFISA 2017-2020), Achmad Sayuti (Ketua umum FKMTHI), dan Imran Fajar (Ketua umum FORMASA-I).

Isu Rasisme akhir-akhir ini turut berkembang ditengah keadaan pandemi. Rasisme secara garis besar merupakan faktor pendorong seseorang untuk berlaku diskriminatif terhadap sesuatu hal, baik itu dalam hal budaya, agama, ekonomi, atau bahkan ciri biologis dari seseorang.
Menurut Dr. Kholid Al-Walid, setiap manusia memiliki aksiden yang sama, sebab itulah semua manusia yang terlahir memiliki subtansi yang sama. Akan tetapi tidak semua orang dapat memahami perihal aksiden ini, pada akhirnya tidak banyak yang dapat memahami subtansi manusia, kemudian manusia yang belum memahami tersebut hanya melihat dari segi fisik dan luarnya saja.

Dari sinilah Rasisme muncul dalam kehidupan manusia, dari setiap perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam berbagai sisi kehidupan, mulai dari idiologi duniawi hingga fisik. Setiap perbedaan yang terlahir itu kemudian muncul penilaian dari setiap manusia yang satu ke manusia lain yang dianggap berbeda, penilaian mana yang lebih sempurna dan tidak, mana yang lebih istimewa dan tidak, mana yang lebih baik dan tidak dan lain sebagainya. Jika sudah mengetahui bagaimana asal rasisme, maka tiindakan untuk mencegah itu kembali “terbudayakan” ialah dengan merubah pola pikir bagi setiap manusia yang sudah “terlanjur” memilikinya dan bagi yang belum memahaminya, menjadi tugas setiap yang memahami memberikan pemahaman yang benar itu, disinilah sebagai kaum pemikir menjadi pelopor utama yang akan memberikan pembenahan terhadap pola pikir yang salah itu.

Selain itu, Agama ikut berperan banyak dalam hal ini, yaitu dengan merubah pola pikir yang keliru untuk bisa bersikap setara sehinggga menghindari perilaku diskriminatif yang dilahirkan dari rasisme dalam kehidupan manusia.

Menurut M. Afif Al-Ayyubi, Rasisme merupakan suatu kepercayaan bahwa ras tertentu lebih tinggi dari yang lain. Rasisme ini berupa pemikiran yang mendorong untuk bersikap diskriminasi. Rasisme ini akan terus ada, hanya saja berubah bentuk dari waktu kewaktu. Agama menekankan equality (persamaan), dalam arti agama menolak adanya rasisme yang bersifat diskriminatif sosial. Dalam mencegah Rasisme, cara yang diperlukan adalah meninggikan literasi dengan cara membaca dan diskusi, karna pada dasarnya rasisme ini berasal dari pikiran maka yang harus diubah adalah pola berpikirnya. Sebagai mahasiswa tidak sepatutnya berlaku diskriminatif, mahasiswa harus menjadi agent of change dalam merubah pola pikir diskriminatif yang ada di masyarakat luas.

Menurut Achmad Sayuti (Ketua umum FKMTHI), Rasisme ini merupakan hal yang persoalannya nyata dalam kehidupan. Persoalan rasisme ini merupakan hal yang sering sekali terjadi dimasyarakat. Bisa dikatakan bahwa rasisme ini merupakan virus, virus rasisme ini lebih berbahaya dari virus Covid-19 karna efeknya yang lebih krusial dari kesehatan. Sebagai pemuda penting bagi kita untuk menerapkan jiwa-jiwa persatuan seperti yang digaungkan oleh bapak kemerdekaan kita, Ir. Soekarno. Selain itu, kita sebagai kaum intelektual jangan mudah terprovokasi terhadap isu-isu yang beredar. Kita harus mencari klarifikasi sumber yang sebenarnya dari isu-isu tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Imran Fajar (Ketua umum FORMASA-I) mengatakan, bahwa pada hakikatnya setiap agama tidak ada yang menghendaki rasisme. Bahkan setiap agama menginginkan adanya persamaan pada kehidupan. Rasisme merupakan persoalan yang mudah berkembang, rasisme mudah menyebar terutama dikalangan masyarakat. Ketika menghadapi persoalan rasisme, rasisme tidak boleh dilawan dengan rasisme. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah jangan mudah terprovokasi dengan isu rasisme yang ada. Kita harus menanamkan terutama pada diri sendiri jiwa-jiwa persatuan dan persamaan, setidaknya kita menanamkan jiwa persatuan sebangsa, setanah air, dan sesama manusia sebagai makhluk Tuhan.

Kegiatan Halal Bi Halal ini diikuti oleh berbagai macam program studi (prodi) atau jurusan mahasiswa dari seluruh Indonesia melalui virtual sehingga sangat ramai dan antusias dari peserta dalam forum ini bisa dirasakan dengan meriah.
Selasa/16/Juni/2020. ( siaran rilis red. corong.co.id )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *